5 Perbedaan Martabak Bangka dan Martabak Pecenongan

JCDMOH 006 Online Avatar

Martabak manis telah menjadi salah satu camilan ikonik Indonesia yang sangat digemari. Namun, meskipun kedua jenis martabak ini disebut “martabak manis”, Martabak Bangka dan Martabak Pecenongan memiliki sejarah dan teknik pembuatan yang sangat berbeda. Martabak Bangka berasal dari tradisi autentik Pulau Bangka, muncul di tengah kehidupan nelayan dan pedagang Tionghoa pada era kolonial sebagai camilan yang ekonomis untuk keluarga besar. Di sisi lain, Martabak Pecenongan di Jakarta telah berevolusi menjadi simbol kemewahan urban, memadukan warisan Bangka dengan sentuhan modern seperti penggunaan mentega impor dan penyajian yang bergaya kafe, sehingga menjadi favorit di kalangan generasi muda yang senang berbagi pengalaman kuliner di media sosial.

Mengenal Asal – Usul Martabak Bangka dan Martabak Pecenongan : Dari Bangka hingga Legenda Pecenongan Jakarta

Martabak Bangka lahir dari tangan Hok Lo Pan (atau Hak Lo Pan), seorang imigran Tionghoa asal Fujian yang tiba di Bangka Belitung sekitar 1926. Ia mempopulerkan adonan tebal dengan topping sederhana seperti kacang tanah goreng dan cokelat blok yang dilelehkan langsung di tempat. Resep ini bermula sebagai eksperimen rumahan di Pangkal Pinang, terinspirasi dari martabak asin (murtabak) Yaman yang kemudian diadaptasi menggunakan gula merah local serta tepung terigu Belanda pada masa colonial.

  Dari dapur-dapur kecil, martabak Bangka menyebar ke kedai -kedai sederhanan di sekitar Pelabuhan, menjadi santapan favorit para nelayan setelah seharian melaut. Tradisi ini bertahan puluhan tahun, mempertahankan esensi kasual; dimasak di atas, tungku arang terbuka, aromanya menyebar ke jalanan, dan harganya tetap terjangkau bagi semua kalangan. Tak heran, martabak Bangka kemudian menjadi kebanggan kuliner Bangka Belitung.

  Sementara itu, di Jakarta, Martabak Pecenongan berkembang dengan jalur yang berbeda. Dinamai dari Kawasan Pecenongan, pusat komunitas Tionghoa-Betawi di Glodok. Martabak ini mulai melejit sejak 1960-an sebagai simbol martabak premium. Pedagang seperti keluarga Haji Abdurrahman mengadopsi resep Bangka, lalu meningkatkannya dengan mentega Wijsman, wajan modern, serta kemasan bermerek. Transformasi ini mengubah martabak dari sekadar jajanan kaki lima menjadi pengalaman kuliner urban yang instagramable.

5 Perbedaan Utama Bangka dan Pecenongan

1. Perbedaan Tekstur dan Kepadatan Adonan pada Martabak Bangka vs Pecenongan

Martabak Bangka cenderung lebih padat, kenyal, dan memiliki serat ‘’sarang’’ yang rapat. Tekstur ini merupakan hasil fermentasi alami selama 1-2jam dengan tepung protein tinggi, telur, dan susu kental manis dalam proporsi ketat, sehingga adonan tahan lama tanpa menjadi lembek. Hasilnya, martabak tetap renyah di bagian pinggir dan empuk di Tengah dan ideal dibawa pulang dari gerobak kaki lima. Gigitan pertamanya menghadirkan sensasi bounce kenyal yang memuaskan, sementara serat rapatnya menahan topping agar tidak langsung lumer, menciptakan harmoni autentik antara adonan dan isian.

Sebaliknya, Martabak Pecenongan biasanya lebih fluffy, empuk seperti spons, dan sangat lembut saat digigit. Tekstur ini diperoleh dari penggunaan baking powder ekstra, fermentasi lebih Panjang hingga sekitar 4 jam, serta Teknik menutup wajan yang rapat untuk membentuk rongga udara yang longgar. Sensasi Cloud-like membuat martabak langsung hancur di mulut, memungkinkan topping cokelat dan keju meleleh sempurna, menghadirkan pengalaman ringan di lidah yang cocok untuk camilan pada malam hari.

2. Aroma dan Wangi Martabak Bangka vs Martabak Pecenongan yang jadi ciri Khas

Bangka mengandalkan aroma alami dari adonan yang dipanggang di atas bara arang tradisional. Wangi caramel tepung hangat berpadu dengan wijen sangrai ddan gula merah yang meleleh perlahan, menghadirkan aroma subtle seperti kue pasar di pagi hari. Di sini, fermentasi ragi dan susu asli menjadi bintang utama, tanpa tambahan berlebih, menciptakan wangi autentik yang membangkitkan nostalgia masa kecil para penikmatnya.

Di sisi lain, Pecenongan identic  dengan aroma mentega premium yang langsung menggoda bahkan sebelum kotak dibuka. Uap mentega Wijsman impor yang dioles tebal saat pemanggangan meresap ke pori-pori adonan, menghasilkan wangi buttery mewah ala croissant bakery Paris di Tengah Jakarta. Aroma kuat inilah yang membuat orang sekitar langsung tergoda, sekaligus menjadi senjata marketing utama yang kerap biral di tik tok saat sesi unboxing.

3.  Perbedaan variasi topping Bangka dan Pecenongan : Klasik vs Premium kekinian

Bangka setia dengan pakem klasik (kacang, cokelat, wijen). Semua diracik segar di tempat untuk menjaga keseimbangan manis-gurih yang timeless sejak era Hok Lo Pan, tanpa gimmick modern. Kacang Pangkal Pinang premium digoreng kering lalu ditabur tebal, sementara cokelat local dilelehkan pas dengan menciptakan harmoni sederhana yang tetap nikmat bahkan saat disantap dingin. Toppingnya murah, melimpah dan berfokus pada kualitas bahan local.

Sementara, Pecenongan tampil sebagai pelopor topping kekinian seperti Nutella, o   Ovomaltine crunchy, Kitkat, green tea hingga Oreo. Semua dilayer bertahap saat proses baking untuk menciptakan kontras tekstur yang adiktif, mudah viral di media social, serta menarik minat Gen Z yang haus variasi.

4. Perbedaan Penggunaan Mentega pada Bangka dan Pecenongan

Martabak Pecenongan dikenal sangat royal menggunakan mentega Wijsman, dioles tebal hingga meresap ke pori-pori adonan. Potongan mentega seberat 100 gram atau lebih dilelehkan saat martabak masih panas, menghasilkan sensasi buttery yang juicy dan nagih di setiap suapan. Teknik oles berlapis di Tengah proses pemanggangan menciptakan lapisan adonan yang sarat mentega, memberikan rasa kaya dan intens, meski bagi Sebagian orang, Tingkat greasy-nya dapat membuat cepat terasa kenyang. Sedangkan Martabak Bangka mengutamakan keseimbangan agar karakter asli adonan tetap menonjol, Mentega hanya dioles tipis, terutama di pinggir wajan, untuk menciptakan kerak yang garing tanpa membanjiri bagian dalam. Pendekatan ini menjaga cita rasa autentik warisan klasik yang lebih ringan, berish, dan tahan dinikmati hingga suapan terakhir.

5. Perbedaan Harga Bangka dan Pecenongan

Pecenongan menargetkan pasar premium dengan harga lebih tinggi, seperti Rp 35.000-Rp65.000, bahkan bisa menenmbus Rp100.000 lebih untuk varian oversized. Segmentasi ini menyasar kekalangan professional urban yang rela membayar lebih mahal dengan kualitas bahan impor, citra eksklusif dan nilai status, menjadikan martabak Pecenongan sebagai ikon kuliner kekinian. Di sisi lain, Martabak Bangka menawarkan rentang harga yang lebih luas, mulai dari Rp20.000 hingga Rp50.000, tersedia dari pedangan kaki lima hingga kedai legendaris seperti Hok Lo Pan. Aksesibilitas tinggi, suasana homey dan cita rasa autentik membuatnya dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Kesimpulan

Intinya, Martabak Bangka jaga cita rasa otentik warisan leluhur dengan tekstur kenyal, aroma alami, dan kesederhanaan hangat yang timeless, sedangkan Pecenongan hadirkan kemewahan modern lewat fluffiness, topping inovatif, mentega berlimpah, dan harga premium—keduanya bikin ketagihan dengan karakter unik yang saling melengkapi pilihan camilan malam.

No comments on 5 Perbedaan Martabak Bangka dan Martabak Pecenongan

Tagged in :

JCDMOH 006 Online Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *